Jun 28, 2009

psikologi anak usia dini: permainan untuk anak

BERMAIN PASIR
Alat dan bahan:
1. Bak Pasir
2. 2 buah Sekop mainan
3. 2 buah Ember mainan
4. 2 buah Ayakan mainan
5. Alat-alat yang berasal dari kekayaan alam, seperti: daun-daun kering, batu, ranting, dll
6. Air
7. Beberapa mangkuk atau gelas plastik yang ringan dengan berbagai ukuran serta berbagai bentuk
Setting Permainan:
1. Perlu dipersiapkan tempat yang rindang dan teduh
2. Besar dan letak ketinggian bak pasir perlu disesuaikan dengan ukuran anak yang akan bermain
3. Pasir yang dipilih dapat berupa pasir dari pantai maupun sungai
4. Untuk menjaga keamanan anak, sebaiknya pasir itu dibersihkan secara berkala dengan cara mencucinya
5. Diusahakan agar anak dapat bermain dengan pasir kering maupun pasir basah
Cara Bermain:
1. Anak-anak diminta untuk membuat sesuatu yang mereka sukai dengan pasir dan alat-alat yang sudah disediakan.
2. Alat-alat yang disediakan adalah milik bersama

Sasaran:
Lima orang anak usia 5-6 tahun
Tujuan:
Untuk melatih kecerdasan naturalis, intrapersonal, interpersonal, dan kreativitas
Parameter Keberhasilan:
Permainan ini dianggap berhasil jika:
1. Anak-anak bisa membuat sesuatu yang mereka sukai dengan alat yang disediakan. Dan dengan alat yang seadanya itu, mereka bisa memanfaatkan seluruhnya.
2. Anak mampu menggunakan bahan-bahan dari alam untuk membentuk maupun berkreasi terhadap sesuatu yang ia buat.
3. Terlihat adanya interaksi sosial diantara anak-anak tersebut, misalnya anak-anak saling meminjam alat, tidak berebut dalam memakai alat dan bahan yang disediakan, dan saling membantu membuat bentuk/ bangunan itu.

Analisis:
Mulai usia lima tahun, anak sudah mampu bermain bersama; ditandai dengan adanya kerjasama atau pembagian tugas dan pembagian peran antara anak-anak yang terlibat dalam permainan tersebut. Menurut Jean Piaget, usia 2-7 tahun merupakan tahap perkembangan praoperasional anak. Pada masa ini, anak mencoba berbagai hal berkaitan dengan konsep angka, ruang, kuantiatas, dan sebagainya. Anak sudah mulai dapat menggunakan berbagai benda sebagai symbol atau representasi benda lain.
Dalam Berk (1994), Rubin, Fein, Vanderberg dan Smilansky mengemukakan bahwa pada usia tiga sampai enam tahun, anak mulai bermain membentuk sesuatu, menciptakan bangunan tertentu dengan alat permainan yang tersedia.
Dengan bermain pasir, anak-anak dapat berkreasi membentuk sesuatu menggunakan alat-alat yang tersedia. Bagus ataupun tidak bukan menjadi masalah yang penting terjadinnya proses di dalam diri anak bahwa ia bisa berkarya dan yakin akan kemampuan dirinya.
Dengan menggunakan pasir dan bahan-bahan dari alam seperti daun-daun kering akan mengasah kecerdasan naturalis anak. Bermain pasir perlu dilengkapi dengan air dan peralatan yang dapat digunakan untuk bereksplorasi. Pilihan peralatan perlu disesuaikan dengan sifat-sifat apa saja yang akan kita lihat untuk meningkatkan penalaran pada anak. Misalnya, anak memperoleh pengalaman bahwa dengan ayakan plastik, dapat mengayak pasir yang kering. Sedangkan bila pasrinya basah hal itu tidak mungkin terjadi.
Inilah yang membuat anak penasaran dan menimbulkan pertanyaan yang tidak perlu dijawab secara terburu-buru oleh fasilitator. Biarlah anak mengamatinya sendiri.
Dari pasir tersebut, Anak diminta untuk membuat sesuatu yang ia sukai, dengan begitu anak dapat memahami apa yang ia sukai dan dapat menuangkannya dalam bentuk tiga dimensi. Dari sisni dapat terlihat pula potensi atau kecenderungan anak terhadap sesuatu. Misalnya, anak laki-laki yang cenderung menyukai otomotif akan membentuk pasirnya menjadi mobil, anak perempuan yang menyukai binatang akan membentuk pasirnya menjadi ikan paus.
Kecerdasan interpersonal sanagt dibutuhkan anak, dan sebaiknya mulai dipupuk dari usia anak sedini mungkin. Kecerdasan ini merupakan kemampuan untuk berhubungan dengan orang-orang disekitar kita, dengan cara memahami perasaan, tempramen, suasana hati, maksud dan keinginan orang lain serta menanggapinya dengan layak. Pada permainan ini mengajarkan anak untuk bisa saling berbagi menggunakan alat permainan bersama. Dalam permainan ini akan terjadi interaksi social seperti pinjam meminjam alat. Anak juga diajarkan untuk bisa berempati dan tidak boleh egois dalam menggunakan peralatan yang tersedia.
Selain kecerdasan interpersonal, anak sebaiknya juga dirangsang untuk mengembangkan kecerdasan intrapersonalnya. Kecerdasan ini menyangkut kecerdasan mengenai diri sendiri, memahami diri sendiri dan bertanggungjawab atas dirinya sendiri. Anak mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya ia rasakan atau inginkan. Orang yang berkecerdasan intrapersonal baik cenderung untuk selalu bersentuhan dengan idea tau gagasan serta impian mereka dan juga memiliki kemampuan untuk mengarahkan emosi mereka sendiri dengan sedemikian rupa untuk memperkaya dan membimbing kehidupan mereka sendiri.
Dari permainan pasir diatas, anak dituntut untuk bisa mengetahui apa yang ia inginkan dan kemudian ia bentuk menjadi suatu benda atau bangunan dari pasir itu, anak tidak diperkenankan bertanya untuk membuat suatu bentuk, sehingga ia bisa belajar mengetahui bentuk apa yang ia inginkan untuk dibentuk dari pasir tersebut.

No comments:

Post a Comment

Post a Comment